Hubungan Manusia Dengan Kebudayaan.
Manusia sebagai mahluk paling sempurna dari mahluk ciptaan tuhan yang lain. Yang memiliki fisik yang sangat baik di bandingkan dengan mahluk lain. Dan di berikan kelebihan akal dan pikiran untuk keperluan pribadi dan orang sekitar. Manusia mahluk Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan social, memiliki keterkaitan dengan kebudayaan. Kebudayaan yang berasal dari bahasa sangsekerta “buddhayah” yaitu bentuk jamak dari buddhi yang artinya budi atau akal. Kebudayaan dalam bahasa Inggris di sebut culture yang berasal dari bahasa latin “colere” yaitu mengolah atau mengerjakan atau lebih tepatnya lagi mengembangkan yang bisa di gambarkan dengan tanah dan bertani.
Manusia dan kebudayaan memiliki ikatan yang sangat erat. Hampir semua aktifitas manusia itu merupakan dari kebudayaan. Namun Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan. Menurut Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Kebudayaan sebagai sesuatu yang bersifat turun temurun, dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Andreas Eppink berpendapat, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Kebudayaan tidak akan selalu berjalan dengan lancar, terkadang akan terjadi sebuah perubahan meskipun perubahan tersebut diharapkan dan direncanakan. Terdapat faktor yang mendorong sehingga mendukung perubahan, tetapi juga ada faktor penghambambat sehingga perubahan tidak terjadi seperti yang di inginkan. Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan. Menurut Soerjono Soekanto ada sembilan faktor yang mendorong terjadinya perubahan sosial, yaitu:
1. Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain.
2. Sistem pendidikan formal yang maju.
3. Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju.
4. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang.
5. Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat.
6. Penduduk yang heterogen.
7. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu
8. Orientasi ke masa depan
9. Nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk perbaikan hidup.
Banyak faktor yang menghambat sebuah proses perubahan. Menurut Soerjono Soekanto, ada delapan buah faktor yang menghalangi terjadinya perubahan sosial, yaitu:
1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.
3. Sikap masyarakat yang mengagungkan tradisi masa lampau dan cenderung konservatif.
4. Adanya kepentingan pribadi dan kelompok yang sudah tertanam kuat (vested interest).
5. Rasa takut terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan dan menimbulkan perubahan pada aspek-aspek tertentu dalam masyarakat.
6. Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing, terutama yang berasal dari Barat.
7. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis.
8. Adat dan kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang cenderung sukar diubah.
http://http//sosial-budaya.blogspot.com/2009/09/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html